31 Desember 2009
Sesuatu untuk anakku….dalam gegap gempitanya “tahun baru”
Ditulis dalam Cahaya mataku, Catatan hari ini..., demi waktu... tagged anak, doa, harapan, tahun baru pada 9:49 pm oleh danisharun
Apa sebenarnya yang sedang bergejolak dalam diri ini, dalam lubuk hati ini, saat ini…apakah kegembiaraan yang meluap-luap menghadapi tahun baru 2010, atau deg-degan menanti pergantian hari tengah malam nanti… atau merasa bergetar karena mendengar ledakan-ledakan petasan yang gegap gempita….
Hmmm, memang sepertinya jantung sedikit meloncat-loncat kala terdengar bunyi petasan bersahut-sahutan…tapi aku kan orang dewasa, aku tetap berusaha tenang dan diam…
Tapi tidak demikian halnya dengan anakku, seorang anak berusia dua tahun….tiba-tiba ia menangis terkejut mendengar bunyi ledakan-ledakan petasan di sekelilingnya..di sekitar rumah kami…
“Anakku sayang, dulu engkau pernah melihat sendiri bagaimana beberapa petasan dinyalakan lalu meledak dengan warna-warna terangnya…dan engkau tidak menangis..ada beberapa anak lain yang menangis waktu itu….tapi engkau tetap diam…meski aku tak tahu apakah sebenarnya engkau pemberani atau hanya takjub terpesona pada nyala api, pada percikan-percikannya yang begitu menarik hatimu…Mengapa kini engkau menangis?”
Dengan segera kugendong pangeran kecilku ini, aku peluk erat-erat dan aku belai lembut kepalanya yang botak serta kuusap-usap punggung mungilnya yang sedikit berkeringat.
“Tak apa-apa sayang….itu bunyi petasan, engkau terkejut ya….”
Aku tahu beberapa anak di luar sana sedang bergembira dengan mainannya yang memang sangat menarik untuk anak-anak itu… Anak-anak yang mungkin sedikit lebih tua beberapa tahun sedang bergembira “menyambut” datangnya “tahun baru”. Banyak diantaranya diajak orangtuanya atau keluarganya menyaksikan suasana kembang api pada malam pergantian tahun tengah malam nanti. Ada pertunjukan musik dan laser yang pasti menarik dan ramai di tempat wisata.
Anakku belum lancar berbicara, tapi aku tahu ia takut, setiap kali bunyi petasan itu meletus, kedua tangan mungilnya memelukku erat, tubuhnya mendekapku rapat, kedua mata mungilnya bergerak-gerak kesana kemari memandang langit-langit….
“Tenanglah, Nak..” dan aku menggendongnya kesana kemari mencoba mencari ruang lain yang mungkin suara petasan akan terdengar berkurang kerasnya…
Beberapa saat kemudian, suasana hening, aku pun menidurkan anakku di atas kasur, dan bersiap meninabobokan, karena memang saat ini sudah waktunya ia tidur. Seperti yang sedang aku coba biasakan berbulan-bulan ini,setiap menjelang saatnya anakku tidur, aku nyalakan dan perdengarkan murottal melalui CD player, sambil aku bukakan untuknya buku cerita bergambar warna-warni, lalu “bercerita” untuknya seraya kutunjukkan gambar-gambar di dalamnya dengan menyebutkan nama-namanya….
Di sela-sela gegap gempitanya petasan, aku perdengarkan untuknya murottal dan kubukakan buku cerita bergambar sepert biasanya. Tapi dari wajahnya aku masih merasakan pancaran rasa takutnya…matanya terus bergerak-gerak, tidak memperhatikan gambar-gambar dalam buku yang aku bukakan untuknya. Sebelah tangannya berusaha mendekatkan tubuhnya ke tubuhku….oh, anakku, kupeluk erat-erat ia….
Ah, aku mulai sedikit “terganggu” dengan suasana ini…mulanya tak kuhiraukan, yah memang seperti inilah setiap menjelang tahun baru Masehi, suasana sekitar tempat tinggal kami selalu penuh dengan suasana “tahun baru” seperti mungkin juga suasana di tempat lain…bunyi petasan dan terompet pun bersahut-sahutan…kadang-kadang sekelompok orang (tetangga) berkumpul dan “nongkrong” sampai dini hari, sekedar mengobrol atau bernyanyi. Padahal mereka tidak muda lagi lho, masih lebih muda aku ini….. hehe, atau mungkin memang aku ini “kuper”, “engga gaul”, “engga modern”, kurang bersosialisasi, terlalu naif, terlalu kolot, atau bagaimana, entahlah….
Eh, tapi aku ingat, dulu waktu aku mash lebih muda lagi…..aku pernah ditawari menjadi vokalis sebuah band remaja untuk menyanyi dalam rangka perayaan tahun baru Masehi di sebuah tempat wisata…dan aku sangat menyukainya, aku memimpikannya, aku memang men-”cita-cita”kannya…..wah waktu itu, kupikir itulah kesempatan terbaik agar aku bisa menunjukkan potensiku, bakat terpendamku, dan aku juga bisa tunjukkan, bahwa aku yang dikenal “kuper” ini bisa juga bersosialisasi, bahkan bisa bergaul dengan komunitas anak band….wah terdengar “KEREN” sekaliiii….kapan lagi….
Tapi orang tuaku tak menyetujuinya, dan mereka benar-benar dengan tegas tidak memperbolehkan. Aku berontak, aku marah, aku sangat kesal dan kemudian bersedih…aku sempat “perang dingin” dengan mereka selama beberapa hari…..aku berduka, oh, kesempatan emasku hilang….dan memang hingga sekarang aku tak pernah lagi mendapatkan tawaran sepert itu (tapi sekarang aku pun tak ingin lagi…..karena sudah tua?…)
Dan, kini… ketika aku menjadi orangtua…mulai menjadi orangtua baru…ibu dari seorang anak berusia dua tahun, baru dua tahun….apa yang kini aku rasakan, dengan suasana yang masih juga sama gegap gempitanya seperti bertahun-tahun yang lalu…?
Sepertinya aku telah berubah…aku berbeda, ataukah karena usia telah bertambah, atau pelampiasan tidak terpenuhinya “cita-citaku” itu, aku telah “berputus asa”….tak menginginkan hal-hal seperti itu lagi…atau apa atau karena apa atau bagaimana….
Masih kupeluk erat anakku semata wayang ini, dan masih terdengar murottal seolah “menyaingi” letusan-letusan petasan di sana-sini. Dan kulihat, perlahan-lahan matanya terpejam. Aku masih memegang tangan mungilnya dan seolah ingin terus “berkata” dengan pelukanku, pegangan tanganku, sentuhanku, belaianku….menenangkannya, hingga ia benar-benar pulas dalam tidurnya, terlelap dalam mimpi indahnya…mudah-mudahan mimpi yang benar-benar indah dan bermanfaat, merekam suara-suara murottal ke alam bawah sadarnya, jauh ke dalam “dirinya” atau mungkin sampai ke “ruh”nya, hingga ia janganlah seperti ibunya dulu ketika muda, memimpikan sesuatu yang tak diinginkan atau tak sesuai dengan naluri kasih sayang orang tua..terlebih lagi mimpi atau keinginan yang tak sesuai dengan apa yang diperintahkan Allooh, memimpikan apa yang dilarang oleh Allooh….na’udzubillaah min dzaalik…
Aku berharap dan berdoa, mudah-mudahan apa yang aku lakukan untuk anakku ini tak salah, meski mungkin sangat “kecil”, sederhana, atau justru terlalu kolot….ah, aku sangat berharap apa yang kulakukan ini tepat dan diridloi Allooh, hanya Allooh yang Maha Mengetahui segala sesuatu
Aku hanya manusia biasa yang penuh kelemahan, ilmu agama aku masih sangat dangkal, usaha ingin dapat menambah hafalan surat Al Qur’an saja tak kunjung tercapai dengan lancar, ilmu pengetahuan dunia saja aku juga sangat lemah, kelakuanku dan banyak kebiasaan hidupku juga belum sesuai dengan yang seharusnya diatur dalam agamaku…aku masih sangat perlu memperbaiki diri…dan terus memperbaiki diri terus dan terus hingga ajal mejelang…dan kesempatanku hilang….
Aku juga hanyalah seorang ibu biasa…aku menginginkan yang terbaik untuk anakku, amanah terbesar dalam hidupku…hanya ini Nak, yang bisa Ibu lakukan untukmu di malam “tahun baru”, Selamat istirahat, ya Nak….Doaku menyerta
imu
Pak de berkata,
1 Januari 2010 pada 1:10 pm
Selamat Tahun Baru semoga segalanya lebih baik