01.27.09
Ketika suami jauh . . .

jauh. . .
Baca entri selengkapnya »
01.26.09
Ada yang berubah tapi tetap bersyukur
Kembali ke perantauan, setelah beberapa hari “bahagia” di rumah bersama orang – orang tercinta, terlebih anakku…
Malas rasanya kembali seperti ini. Tapi tugas harus diselesaikan.
Sekarang aku banyak berubah, tak seperti aku yang dulu, yang masih fresh, dengan segala idealisme di segala bidang. Dulu aku punya target selalu memperoleh kenalan baru dalam setiap perjalanan, mengobrol dan bercakap. Bahkan jika mungkin bertukar nomor telepon atau alamat. Walaupun entah kapan menghubungi atau datang ke alamat tersebut. Targetku mencari teman sebanyak – banyaknya. Targetku mengurangi rasa nervous, ketika mengobrol, menambah wawasan, meningkatkan percaya diri, dan dulu, target sambilanku adalah mencari jodoh. Siapa tahu jodohku ketemu di bis….Hampir selalu aku menikmati perjalanan – perjalanan, bahkan cenderung sering berjalan – jalan…
Tapi semenjak menikah, atau mungkin sejak aku memiliki anak, berkeluarga…Sepertinya aku berubah. Baca entri selengkapnya »
Long distance family
Menjalani “long distance family” sudah menjadi konsekuensi ketika aku memutuskan menikah dengna suamiku, waktu dua tahun lalu. Kami bekerja berbeda tempat, berbeda bidang, berbeda sistem, dan banyak lagi perbedaan lainnya.
Entah apa ini namanya…egois, atau manja, atau kesepian, kurang percaya, atau takut kehilangan, atau apa… Yang jelas harus setiap hari aku mendengar suaranya, mengetahui kabarnya, mendengarkan ceritanya (walaupun lebih banyak aku yang bercerita)..Bahkan inginnya berkali – kali dalam satu hari….Wah, benar – benar berdampak pada alokasi anggaran untuk pulsa. Seperti kecanduan…
Terlebih saat sendiri, jauh juga dari anak, seperti sekarang ini. Sangat terasa. Walaupun ada kesempatan pergi berjalan – jalan keluar, ada banyak buku yang bisa dibaca (banyak pinjam buku, tapi jarang dibaca), banyak teman jika mau rajin berkunjung… Tapi tetap terasa “sepi”. Entah mengapa terasa jauh lebih sepi daripada saat masih bekerja secara normal lima kali sepekan. (Sudah hampir empat bulan, aku kuliah lagi, di – tugas belajar – kan). Padahal saat dulu itu, aku juga sering sendiri, pulang bekerja, menonton televisi sampai pagi (aku sengaja menyalakannya terus untuk mengusir takut saat sendiri di malam hari). Atau mungkin pengaruh televisi juga yang mampu “menemani” aku…Sekarang di kos, hanya laptop dan internet yang menemani aku, termasuk menulis blog, mencurahkan perasaan, mengungkapkan isi hati… Atau mungkin aku belum beradaptasi dengan kondisi baru ini… Saat sibuk sekali dikejar deadline mengumpulkan tugas, atau belajar semalam suntuk karena akan ujian, tak terlalu terasa sepi juga.
Aku ingin selalu mempersiapkan apa pun yang terbaik yang bisa aku lakukan saat suamiku pulang. Entah menyiapkan makanan kesukaan (snack/camilan), minuman hangat favoritnya, apa pun yang ia sukai…
Rencananya saat pulang satu pekan lagi ke depan, kami akan menginap di hotel yang sedikit mewah. Sekali – kali untuk hiburan, liburan, bulan madu…Tapi kemarin ia memberitahuku akan berencana mengikuti tes untuk mendapatkan sertifikat kerja. Dan tes tersebut akan berlangsung tiga hari saat liburan. Itu artinya, waktu kebersamaan kami sekeluarga akan berkurang pekan depan. Mungkin kami bertemu dan bersama hanya tiga hari, tidak lima hari seperti biasanya…Dan tiga hari yang sempit akan kami habiskan bersama anak di rumah orang tuaku.(anakku kutitipkan di rumah orang tuaku sejak lahir, karena aku, kami belum mapan secara tempat tinggal)
Jika memang demi kebaikan bersama, untuk masa depan, untuk karir suamiku, aku rela dan ikhlas, meski ada sedikit sedih..(berarti ya belum ikhlas).
Bagaimana dengan Anda, teman-teman, yang menjalani long distance family seperti aku ini? Apakah merasakan hal yang sama seperti aku? Lalu apa yang dilakukan?
Aku masih menunggu SMS atau telpon dari suamiku….waktu berjalan amat lamaaaa….
01.25.09
Penyemangat hidupku

blangkon klaten dari tante novi

baju dari uti dan kakung
Alhamdulillaah, bahagianya hati tatkala kutatap lagi wajah bulat nan imut, bau khas harum bedak campur keringat segar, suara mungil berintonasi lucu seolah tak berarti tapi mungkin bermakna, senyum khas yang lebar namun mungil… Baca entri selengkapnya »
01.24.09
Revisi I, terimakasih Ibu
Perkembangan terbaru hingga kemarin…
Selama dua malam berturut – turut, saya “nglembur” hampir semalaman. Saya mengejar target menyelesaikan laporan magang hari Rabu. Rabu malam, rencana saya dan teman satu tim akan menyerahkan laporan tersebut untuk dikoreksi. Baca entri selengkapnya »
01.22.09
Tak semudah diucapkan
Siang hari di kos…
Lama sekali saya tak menulis catatan harian atau diary seperti ini. Namun kali ini saya menuliskannya, atau lebih tepatnya mengetikkannya dalam sebuah blog. Berkaitan dengan tugas kuliah lapangan, magang di sebuah daerah di wilayah Yogyakarta yang paling luas, yang terkenal tandus dan banyak pegunungan kapur….
Hari ini kegiatanku sebagian besar duduk di gazebo kampus, sambil menyusun laporan, bersama teman satu tim. Saya berjanji hari ini menyelesaikan bagian tugas saya. Ternyata tak semudah yang saya bayangkan. Maafkan saya, teman, saya rasa saya telah sering mengingkari janji, terutama soal waktu. Baca entri selengkapnya »